Jumat, 02 Desember 2011

Dakwah melalui Pacaran

Written by abdullah
 
Dakwah Islam adalah salah satu bentuk media jihad yang terdapat di dalam agama Islam. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menyebarkan ilmu pengetahuan, menasehati sesama adalah beberapa aktivitas yang biasanya terdapat di dalam dakwah Islam. Dakwah Islam adalah salah satu bentuk kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, sebagaimana firman Allah swt berikut:
“Serulah (manusia) ke jalan Rabb-mu dengan hikmah1 dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. An Nahl (16) : 125
 “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar1, merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imron (3) : 104
 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”. QS. Ali Imron (3) : 110
Lalu bagaimana kaitan antara dakwah Islam dengan pacaran? Ada segolongan orang yang mengatakan bahwa pacaran itu dilarang menurut pandangan Islam. Namun ada pula golongan yang mengatakan bahwa pacaran boleh-boleh saja asal nggak kebangetan. Bahkan, ada pula seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah yang akhirnya menggunakan pacaran sebagai media dakwah.

Ia berpendapat bahwa dengan pacaran akan membuatnya lebih intensif dalam mendakwahi pasangannya. Benarkah demikian?

Memang larangan mengenai pacaran di dalam Islam tidak dibahas secara eksplisit. Mungkin itulah salah satu faktor yang mengakibatkan kebanyakan orang awam tidak dapat menerima atas hukum pelarangan pacaran ini. Namun, dalam dunia dakwah islam, larangan  pacaran adalah hal yang sudah sangat dimengerti, maka aneh sekali manakala ada seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah islam, namun ia tetap melakukan pacaran.

Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, namun banyak sekali dalil yang dapat di jadikan sebagai rujukan untuk pelarangan pacaran tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang MENDEKATI ZINA.
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra [17] : 32).
Lalu, apa saja perbuatan yang tergolong MENDEKATI ZINA itu? Diantaranya adalah: saling memandang, merajuk/manja, bersentuhan (berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dll), berdua-duaan, dll. Karena unsur-unsur ini dilarang dalam agama Islam, maka tentu saja hal-hal yang di dalamnya terdapat unsure tersebut adalah di larang. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat (dengan syahwat), zinanya lidah adalah mengucapkan (dengan syahwat), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya…” (HR Bukhari & Muslim)
Dalil di atas kemudian juga diperkuat lagi oleh beberapa hadits dan ayat Al Quran berikut:

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (Bukhori dan Muslim)

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad).  
 
“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HASAN, Thabrani dalam Mu`jam Kabir 20/174/386)

"Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membaiat. Beliau tidak membaiat mereka kecuali dengan mangatakan: "Saya baiat kalian." (HR. Bukhori)

"Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita." (HR Malik , Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Telah berkata Aisyah RA, "Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membaiatnya (mengambil janji) dengan perkataaan." (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

"Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain. Karena pandangan yang pertama mubah untukmu. Namun yang kedua adalah haram" . (HR Abu Dawud , At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani)

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.” (HR. Ahmad)

Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang (lawan-jenis) yang (membangkitkan syahwat) tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR Muslim)

“Janganlah kau terlalu lembut bicara supaya (lawan-jenis) yang lemah hatinya tidak bangkit nafsu (syahwat)-nya.” (QS al-Ahzab [33]: 32)

Sekarang pertanyaannya, “Apakah di dalam pacaran terdapat unsur-unsur sebagaimana yang telah disebutkan pada dalil-dalil diatas?” Kalau memang ada, maka jelas bahwa pacaran itu DILARANG di dalam Islam, dengan alasan apapun. Jika dengan keterangan-keterangan yang sudah diuraikan secara jelas di atas ternyata masih ada saja yang mengatakan bahwa pacaran itu BOLEH, maka patut dipertanyakan, “Apa atau yang mana dalilnya?”.

Jangan mengatas namakan dakwah islam untuk menghalalkan pacaran!
Sebagai aktivis dakwah islam, tentunya kita tahu bahwa antara laki-laki dan perempuan (ikhwan dan akhwat) itu sudah ada seksi dakwah islamnya masing-masing (anggaplah SEKSI DAKWAH ISLAM=penulis). Maksudnya adalah, bagi akhwat/perempuan, di sana ada murobbiyah yang khusus menangani dakwah islam dikalangan akhwat, dan disana juga sudah disediakan murobbi yang menangani dakwah islam khusus dikalangan ihkwan secara intensif. Diluar itu, ikhwan punya rekan sesama ikhwan untuk sekedar bertanya atau konsultasi, begitu pula akhwat. Selain itu, untuk dakwah islam atau ta’lim lain yang lebih bersifat umum, yang dapat dihadiri oleh ikhwan dan akhwat pun sudah ada, seperti seminar, dll. Seminar, bedah buku, itu boleh dihadiri oleh ikhwan dan akhwat namun tetap menghindarkan adanya percampuran ataupun berdua-duaan. Maka serahkan saja urusan akhwat ini kepada akhwat juga atau kepada murobbiah-nya. Kalaupun ada kepentingan, sekedar menyampaikan saran atau masukan, sampaikan saja melalui rekan akhwatnya, bukannya kita yang harus turunlangsung. Atau silahkan saja sampaikan secara langsung dengan tidak melalui media pacaran dan menghindari unsur-unsur yang mengarah pada MENDEKATI ZINA, sebagaimana telah disampaikan di atas.

Kalau berbicara masalah “ingin berdakwah islam lebih intensif”, banyak cara lain yang dapat kita lakukan. Kalau ingin mendakwah islami orang, ya pilih yang ikhwan juga dong, jangan yang akhwat. Kalau yang akhwat, sampaikan saja kepada rekan akhwat kita, bereskan?
Lagipula, andaipun kita hendak melakukan dakwah Islam kepada seluruh perempuan yang ada di sekolah kita, di kampus kita, di kantor kita, atau di kampung kita…apakah lantas kita juga akan menjadikan mereka sebagai pacar kita semua??? Tidak masuk logikakan alasan semacam ini!

Kalau lantas kita mengatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung kepada niatnya (Pacaran yang niatnya untuk dakwah islam). Eittt…tunggu dulu! Niat itu nggak berhenti sampai di situ aja. Niat itu harus diluruskan, LURUSKAN NIAT! Maksudnya adalah, niat untuk melakukan kebaikan ya harus dilakukan dengan cara yang lurus atau benar (sesuai dengan syariat), bukan dengan cara yang buruk atau dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Kalau niat baik dilakukan dengan cara yang batil, itu namanya melenceng! Sama aja seperti ini, “apakah niat menyumbang ke Masjid itu diperbolehkan manakala uangnya diperoleh dari hasil merampok?”, ya jelas aja ga boleh. Itu namanya mencampur adukkan antara yang hak dengan yang batil, dan Allah swt telah melarang hal tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya:

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui." (QS al-Baqarah [2] : 42).
Dari sini semakin jelas bahwa pacaran dilarang di dalam Islam. Dan tidak ada dakwah Islam yang dilakukan dengan metode pacaran, karena nanti jatuhnya bukan dakwah Islam lagi, melainkan MENDEKATI ZINA, dan Rasulullah saw pun tidak mencontohkan cara-cara yang demikian.

Dakwah islam Islam adalah perkara suci yang ditujukan hanya untuk Allah swt. Maka jalankanlah dengan cara-cara suci yang diridhoi oleh Allah swt, bukan dengan jalan batil yang justru akan menodai nama dakwah Islam dan menimbulkan murka Allah swt.
Wallahua’lam bishshowab
Artikel ini juga dapat dibaca di www.lingkarcahaya.com

Pacaran itu apa sih ?

Assalaamu’alaikum, Ada sebuah pertanyaan ni tolong jawab ya ! “Arti pacaran itu sebenarnya apa sih ? melihat keadaan sekarang,, makasih atas jawabannya..



Wass. Menurut ana lebih menjurus kemaksiat, lebih mementingkan kenikmatan sesaat tanpa memikirkan akibatnya.,,,,,,,,,,, By Aceng



Wass. Tergantung. Pada intinya saling mengenal, mengerti saling memahmi satu sama lain. ,,,,,,,,, By Dewi Ratih
           
            Ok, pada dasarnya gak ada istilah pacaran dalam islam ada juga pertemanan, persahabatan (ta’aruf) karena pacaran itu termasuk perbuatan yang diharamkan, karena merupakan fase paling awal perbuatan zina. Qita sebagai umat islam yang berkiblat pada ajaran Al-Quran n sunah rasul secara ‘kaafah’ semestinya mendasarkan kaca mata islam, sebagai fertilitas n pijakan qita dalam setiap aktifitas dzikir, fikir, amal qita, jangan karena nasib, nafsu, qita berlaku seenak dri qita tapi harus mengedapkan nilai iman n islamkita jangan hanya karena sedang musim ngetren (usum) lantas qita ikutan pada hal yang keluar dari syariat islam so gk ada islam dalam haram. Kalo ada pacaran islami, ntar ada juga judi islami, nuri islami, mabok islami, zina islami,,, yang akhirnya menjadikan kekotoran nama islam yang suci begitu kang imron  !,,,,,,,,,,,, by Abudin
           
            Kalau melihat anak jaman sekrang. Mereka menganggap pacaran itu sebuah permainan yang sangat mengasikan, dengan mentupi setatus jomblonya, anak jaman sekarang kalo jomblo teh asa ketinggalan jaman (mungkin).,,,,,,,,  By  Septy



            Kalo motif macem2 sih,,,,,,,,, by Diding



            Pada jaman Rasul pacaran itu sesudah nikah setelah khithbah disebut jga pacaran Cuma hanya mencari info si korban tupun melalui muhrimnya. Kalau jaman sekarang cuman salah menempatkan saja... makanya kalau mau pacaran khithbah dlu... by Idik Sidik



            Boleh pmi kange perempuan mh...nu ku2na dan bereumn sanes? He,,,, by Hafid



            Menurut saya pacaran itu saling mengenal, saling memahami satu sama lain, bukan untuk saling bertengkar dan mengedepankan ego masing2 atau hanya utk mencari kepuasan semata, tapi pacran itu semata2 hanya untuk saling mengenal krna Allah. Aritnya nanti kedepannya jadi lbh indah menjadi pasangan yng sakinah mawadah warohmah itu menurut saya,,,,,,,, by : Andi Rahayu IAIC



            Menurut saya arti pacaran tida ada bagi umat islam tapi cuman ada taaruf tapi selalu dan artikan dengan pacaran. Ta’aruf disini menurut saya saling mengenal lawan jenis kita scara rohani dlam arti sikap maupun perbuatan,,,,,,,  by: Anwar





Rabu, 30 November 2011

Kehidupan Rasulullah

Mayoritas kaum muslimin pada hari ini terjebak di antara dua sikap yang kontradiktif terhadap Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Ada yang bersikap berlebih-lebihan terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, hingga terseret ke dalam perbuatan syirik, seperti memohon kepada beliau atau beristighatsah kepadanya. Dan ada pula yang memandang remeh kedudukan beliau selaku utusan Allah Subhannahu wa Ta’ala , pada akhirnya ia berani melanggar petunjuk beliau, tidak meneladani sirah (peri kehidupan) beliau, dan tidak pula menjadikannya sebagai pelita kehidupan dan rambu perjalanan.
Lembaran-lembaran yang terbilang sedikit ini yang hadir di hadapan pembaca adalah salah satu upaya memperkenalkan biografi dan seluk beluk kehidupan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan metode yang ringkas dan praktis. Apa yang kami sajikan ini belumlah dapat dikatakan memadai untuk itu, sebab kami hanya menampilkan beberapa petikan mengenai karakteristik Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.
Kehidupan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah kehidupan yang penuh teladan bagi umat, acuan dakwah sekaligus sebagai pedoman hidup. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam adalah teladan dalam ketaatan, dalam beribadah dan berakhlak yang mulia. Teladan dalam bermuamalah yang baik dan dalam menjaga kehormatan dan kemuliaan.
Ahlus Sunnah wal Jamaah menempatkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pada kedudukan yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada beliau, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya. Ahlus Sunnah wal Jamaah tidaklah berlebih-lebihan dalam menyanjung Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Kedudukan yang telah diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala sudah cukup untuk menunjukkan ketinggian derajat beliau. Kita, sebagai Ahlus Sunnah, wajib berjalan di atas prinsip tersebut, kita tidak boleh mengada-adakan perbuatan bid’ah, seperti mengadakan peringatan maulid Nabi Shalallaahu alaihi wasalam serta perayaan-perayaan sejenisnya. Namun manifestasi cinta kita kepada beliau ialah dengan mentaati perintah beliau, menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan dibencinya.
Dalam sebuah syair dituturkan: Yang harus kita maklumi, beliau hanyalah seorang manusia biasa. Di samping beliau adalah hamba Allah yang terbaik. Allah mengistimewakan beliau dengan stempel putih kenabian. Bagaikan cahaya yang terang bersinar. Allah menyertakan nama beliau dengan asma-Nya. Saat muadzin mengumandangkan adzan lima kali sehari semalam dengan bersyahadat. Hingga nama beliau dipetik dari nama-Nya sebagai penghormatan. Allah Subhannahu wa Ta’ala pemilik ‘Arsy adalah Yang Maha Terpuji, Sementara beliau adalah yang terpuji.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan. (HR. Ahmad)
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah.” (HR. Ahmad)
Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: “Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapknya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat.” Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: “beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.” Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara.
Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah. Beliau bersabda: “Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.” Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi)
Anas bin Malik Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Aku pernah menjadi pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam selama sepuluh tahun. Tidak pernah sama sekali beliau mengucapkan “hus” kepadaku. Beliau tidak pernah membentakku terhadap sesuatu yang kukerjakan (dengan ucapan): “Mengapa engkau kerjakan begini!” Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan ucapan): “Mengapa tidak engkau kerjakan!” (HR. Muslim)
Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menyeru umatnya untuk berlaku lemah lembut dan sabar. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Lembut, dan menyukai kelembutan dalam segala perkara.” (Muttafaq ‘alaih)
‘Aisyah Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa menerima bingkisan hadiah dan membalas bingkisan itu.” (HR. Bukhari)
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, hendaklah ia memuliakan tamu. Hak tamu ialah sehari semalam. Kewajiban melayani tamu adalah tiga hari, lebih dari itu merupakan sedekah. Seorang tamu tidaklah boleh berlama-lama sehingga memberatkan tuan rumah.” (HR. Al-Bukhari)
Hakim bin Hizam Radhiallaahu anhu menuturkan: “Aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , beliau lantas memberikannya. Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikanya. Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberikannya seraya berkata: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis dan indah. Barang siapa yang mengambilnya dengan kemurahan hati, ia akan mendapat keberkatan padanya. Barangsiapa yang mengambilnya dengan ketamakan, ia tidak akan mendapat keberkatan padanya. Bagaikan orang yang makan tapi tidak pernah kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.” (Muttafaq ‘alaih)
Benarlah ucapan seorang penyair: Beliau adalah seorang yang paling sempurna ketaatannya disamping memiliki semangat yang begitu tinggi. Demikian agung dan luhur kedudukan beliau hingga sulit dibandingkan dengan siapapun. Bila cahaya beliau menyinari umat manusia niscaya akan mengelokkan dan menaungi mereka.
Ternyata cahaya itu adalah Al-Qur’an dan Sunnah beliau. Kutemukan para pemburu tercengang keheranan. Kutemukan semua kebaikan terkumpul pada seorang insan (Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam )
Jabir Radhiallaahu anhu berkata: “Tidak pernah sama sekali Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengatakan “tidak” (menolak) setiap kali diminta.” (HR. Al-Bukhari)
Abdullah bin Al-Harits Radhiallaahu anhu menuturkan: “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .” (HR. At-Tirmidzi)
Mengapa harus heran wahai saudaraku tercinta, beliaulah yang menegaskan:
“Senyumanmu di hadapan saudaramu (seiman) adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi)
Anas bin Malik Radhiallaahu anhu yang pernah menjadi pelayan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah mengungkapkan kepada kita beberapa sifat yang agung pada diri beliau. Yang sulit ditemukan pada diri seseorang, bahkan pada diri orang banyak. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang sangat lembut, beliau pasti memperhatikan setiap orang yang bertanya kepadanya, beliau tidak akan berpaling sehingga sipenanyalah yang berpaling. Beliau pasti menyambut setiap orang yang mengulurkan tangannya kepada beliau, beliau tidak akan melepas jabatan tangannya sehingga orang itulah yang melepaskan.” (HR. Abu Nu’aim dalam kitab Dalaail)
Selain sangat memuliakan tamu dan berlaku lembut kepada mereka, beliau juga sangat penyantun terhadap umatnya. Oleh sebab itu, beliau tidak rela melihat kemungkaran bahkan beliau pasti segera membasminya.
Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu menuturkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melihat cincin emas di tangan seorang lelaki. Beliau segera mencabut cincin itu lalu membuangnya seraya berkata: “Apakah salah seorang di antara kamu suka memakai bara api dari Neraka di tangannya?” (HR. Muslim)
Meskipun beliau mencintai ‘Aisyah radhiallaahu anha, beliau tetap menyanggah ghibah yang diucapkan istri beliau tercinta itu. beliau jelaskan kepadanya betapa besar bahaya ghibah.
‘Aisyahradhiyallahu ‘anha pernah berkata: “Cukuplah bagimu tentang kekurangan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha bahwa dia begini dan begini.” Perawi menjelaskan: Yaitu pendek tubuhnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung menegur:
“Engkau telah mengucapkan sebuah kalimat yang seandainya dicampur dengan air lautan niscaya akan mengotorinya.” (HR. Abu Daud)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira bagi orang yang membela kehormatan saudaranya (seagama). Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang membela kehormatan saudara-nya dari perkataan ghibah, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan membebaskannya dari api Neraka.” (HR. Ahmad)
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Setiap kali disampaikan kepada beliau sesuatu yang kurang berkenan dari seseorang, beliau tidak mengatakan: “Apa maunya si ‘Fulan’ berkata demikian!” Namun beliau mengatakan: “Apa maunya ‘mereka’ berkata demikian!” (HR. At-Tirmidzi)
Dikutip dari:
Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim

Berkhalwat

Di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, Shafiyyah binti Huyay datang menziarahi Nabi SAW yang sedang iktikaf di masjid. Shafiyyah lantas bercakap-cakap dengan Nabi beberapa saat usai shalat Isya’. Setelah itu, Shafiyyah–salah seorang istri Nabi–berdiri untuk kembali. Nabi pun mengantarnya hingga di pintu masjid dekat dengan tempat Ummu Salamah, istri Nabi yang lain. Tetapi, tiba-tiba ada dua orang pria Anshar mengucapkan salam. Mereka lewat dan langsung pergi dengan buru-buru.
”Tinggallah di tempat kalian, sesungguhnya ia adalah Shafiyyah binti Huyay!” Rasulullah SAW berseru kepada kedua pria itu. Kedua orang itu pun terkejut seraya mengucapkan, ”Mahasuci Allah! Duhai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak mengatakan seperti itu.” Nabi kemudian bersabda, ”Sesungguhnya setan memasuki anak Adam melalui peredaran darahnya. Aku khawatir, ia memasuki tubuh kalian berdua.”
Hadis Ali bin al-Husain dari Shafiyyah binti Huyay tersebut di atas bisa dipahami bahwa Nabi menjelaskan perkara syubhat yang ada dalam diri dua sahabatnya. Beliau mengkhawatirkan kejadian tersebut akan menimbulkan fitnah. Selain itu, hadis tersebut juga mengindikasikan adanya larangan berkhalwat. Larangan itu berlaku bagi siapa saja, apa pun kedudukannya. Baik dia itu seorang ustaz, guru agama, kiai, dan siapa pun.
Berkhalwat itu terjadi ketika seorang pria menyendiri dengan seorang wanita bukan mahramnya di suatu tempat (sunyi, jauh dari jalan atau keramaian) yang tidak mungkin orang lain untuk bergabung dengan keduanya. Pada saat itulah mereka sebenarnya sedang ditemani setan. Dari Jabir, Rasulullah bersabda, ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai oleh mahramnya karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan.”
Secara realita, berkhalwat menjadikan pria hanya mengenal wanita sebatas ”perempuan” sekaligus menjadikan wanita hanya mengenal pria sebatas ”laki-laki”. Keduanya akan didorong setan untuk melihat lawan jenisnya dari sudut pandang seksual semata.
Oleh karena itu, larangan berkhalwat merupakan tindakan preventif bagi pria maupun wanita dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, yang menyebabkan berbagai kerusakan. Karena khalwat merupakan sarana yang dapat mengarahkan kepada perbuatan zina yang merusak tatanan sosial kemasyarakatan. Fitnah, gosip, prasangka buruk, dan perbuatan destruktif lain akibat perbuatan berkhalwat bisa merusak hubungan baik antarmanusia, termasuk meretakkan keutuhan rumah tangga.

Kamis, 13 Oktober 2011

Pengertian Shalat

Pengertian Shalat Shalat secara bahasa berarti berdo’a. dengan kata lain, shalat secara bahasa mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan pengertian shalat menurut syara’ adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ucapan di sini adalah bacaan-bacaan al-Qur’an, takbir, tasbih, dan do’a. Sedang yang dimaksud dengan perbuatan adalah gerakan-gerakan dalam shalat misalnya berdiri, ruku’, sujud, duduk, dan gerakan-gerakan lain yang dilakukan dalam shalat. 

Sedangkan menurut Hasbi ash-Shiddieqy shalat yaitu beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah, menurut syarat-syarat yang telah ditentukan.

Yang dimaksudkan shalat dalam penelitian ini adalah tidak hanya sekedar shalat tanpa adanya penghayatan atau berdampak sama sekali dalam kehidupannya, akan tetapi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah shalat fardlu yang didirikan dengan khusyu’ yakni shalat yang nantinya akan berimplikasi terhadap orang yang melaksanakannya. Pengertian shalat yang dimaksudkan  lebih kepada pengertian shalat menurut Ash Shiddieqy  dari ta’rif shalat yang menggambarkan ruhus shalat (jiwa shalat); yaitu berharap kepada Allah dengan sepenuh jiwa, dengan segala khusyu’ dihadapan-Nya dan berikhlas bagi-Nya serta hadir hati dalam berdzikir, berdo’a dan memuji.

Inilah ruh atau jiwa shalat yang benar dan sekali-kali tidak disyari’atkan shalat karena rupanya, tetapi disyari’atkan karena mengingat jiwanya (ruhnya).

Khusyu’ secara bahasa berasal dari kata khasya’a-yakhsya’u-khusyu’an, atau ikhta dan takhasysya’a yang artinya memusatkan penglihatan pada bumi dan memejamkan mata, atau meringankan suara ketika shalat.  Khusyu’ secara bahasa juga bisa diartikan sungguh-sungguh penuh penyerahan dan kebulatan hati; penuh kesadaran hati.  Arti khusyu’ itu lebih dekat dengan khudhu’ yaitu tunduk, dan takhasysyu’ yaitu membuat diri menjadi khusyu’. Khusyu’ ini dapat terjadi baik pada suara, badan maupun penglihatan. Tiga anggota itulah yang menjadi tanda (simbol) kekhusyu’an seseorang dalam shalat.

Khusyu’ menurut istilah syara’ adalah keadaan jiwa yang tenang dan tawadhu’ (rendah hati), yang kemudian pengaruh khusyu’ dihati tadi akan menjadi tampak pada anggota tubuh yang lainnya.  Sedang menurut A. Syafi’i khusyu’ adalah menyengaja, ikhlas dan tunduk lahir dan batin; dengan menyempurnakan keindahan bentuk/sikap lahirnya, serta memenuhinya dengan kehadiran hati, kesadaran dan pengertian (penta’rifan) segala ucapan bentuk/sikap lahir itu.

Jadi secara utuh yang dimaksudkan oleh penyusun dalam judul penelitian ini adalah mengatasi persoalan-persoalan yang berhubungan dengan psikis sehari-hari seperti masalah rumah tangga, perkawinan, lingkungan kerja, sampai masalah pribadi dengan membiasakan shalat yang dilakukan dengan khusyu’.  Dengan kata lain dalam penelitian ini  akan dibahas tema shalat sebagai mediator untuk mengatasi segala permasalahan manusia sehari-hari yang berhubungan dengan psikis, karena shalat merupakan kewajiban peribadatan (formal) yang paling penting dalam sistem keagamaan Islam.

Sabtu, 30 April 2011

Telepon

Pernahkah Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:
“Terima kasih, Anda telah menghubungi Baitullah”.
“Tekan 1 untuk ‘meminta’.
Tekan 2 untuk ‘mengucap syukur’.
Tekan 3 untuk ‘mengeluh’.
Tekan 4 untuk ‘permintaan lainnya’.”
Atau….
Bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:
“Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya.”
Atau, bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:
“Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat,
Tekan 1. Dengan Malaikat Mikail,
Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,
Tekan 3. Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,
Tekan 4. “Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka,
silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!”
Atau bisa juga Anda mendengar ini :
“Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini.
Silakan mencoba kembali esok hari.”
atau…
“Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi.”
Alhamdulillah. …. Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya setiap saat!!!
Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar anda. Karena bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.
Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.
Ketika Anda memanggil-Nya, gunakan nomor utama ini: 24434
2 : shalat Subuh
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya
Atau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak kemashlahatannya, gunakan nomor ini : 28443483
2 : shalat Subuh
8 : Shalat Dhuha
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya
8 : Shalat Lail (tahajjud atau lainnya)
3 : Shalat Witir
Info selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul “Al Qur’anul Karim & Hadist Rasul”
Langsung hubungi, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa dipungut biaya.
Nomor 24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak terbatas dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun !!!
Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita. Mana tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya Sabda Rasulullah S.A.W :
“Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih laut”
7 Kalimah ALLAH:
1. Mengucap “Bismillah” pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap ” Alhamdulillah” pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap “Astaghfirullah” jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap ” Insya-Allah” jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap “La haula wala kuwwata illa billah” jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. M engucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” jika menghadapi dan menerima musibah..
7. Mengucap “La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah ” sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya…
Dari tafsir Hanafi,
mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat … mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu… mudah-mudahan jadi bisa, karena sudah biasa.

Selasa, 05 April 2011

Pembagian Waktu Dalam Kehidupan Pemuda

Masalah yang paling urgen dalam kehidupan pemuda adalah pengalokasian waktu dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Suatu yang tidak dapat diterima oleh syari’at. Islam adalah sikap para pemuda yang berlebihan dalam membuang-buang waktu guna memenuhi keinginan tertentu yang tidak berarti. Meskipun pada dasarnya keinginan tersebut dibolehkan, namun ketenggelaman mereka di dalmnya menjadikan lupa terhadap kewajiban-kewajibannya, hal itu menjadi haram hukumnya. Dr. At-Tahami Nuqrah menerangkan segi keseimbangan dalam kehidupan para pemuda muslim seraya mengungkapkan:

“Islam itu telah menggambarkan manhaj yang konkrit bagi kehidupan orang muslim, menerangkan kepadanya tentang pembagian waktu, sehigga dia menggunakan sebagian untuk kesibukan demi kelangsungan hidupnya dan sebagian lagi untuk membekali diri demi kehidupan akhirat nanti, serta yang lainnya untuk urusan-urusan khusus. Manhaj ini tidak bertentangan dengan fisik maupun rohani bahkan membangkitkan semangat dan kesungguhan, serta mendatangkan kebahagian, sehingga semua kebutuhan dan keinginan dapat terpenuhi tanpa berlebih-lebihan. Namun kita harus memilah-milih, antara permainan yang tidak dilarang yang dapat mereformasi semangat, menggunakan seluruh kekuasaan untuk bekerja keras, dan penyakit naluri keduniaan yang melanglang buana keseluruh aspek kehidupan. Dengan demikian tidak akan tercipta kebiasaan-kebiasaan buruk dalam masyarakat islam tidak terdapat peraturan yang hanya berlaku di siang hari saja dan lainnya di malam hari. Allah SWT telah berfirman:

“Maka bertasbihlah kepada Allah dieaktu berada di petang hari dan waktu kaum subuh. Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari serta pada waktu kamu berada di waktu dhur.”

Sekarang ini kehidupan malam yang terlihat menyakitkan, dimana masjid-mesjid dan halaqat-halaqat ilmiyah kosong tidak berpenghuni yang ramai adalah discotique, bar dan tempat-tempat permainan lainnya yang beragam bentuk dan jenisnya. Inilah polusi budaya, untuk mereformasi semuanya itu ketengan di tengah-tengah kegoncangan dunia.

Islam tidak memberikan tempat bagi permainan yang dapat merusak moral dan keharmonisan social. Permainan-permainan ini tidak menggelamkan (menguasai) orang-orang yang bekerja dan berpikir, serta orang-orang yang rajin belajar, mebaca apa yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, tapi permainan-permainan itu hanya mencekram orang-orang yang suka menghambur-hamburkan waktu dan tidak mau bekerja.

Jangan sampai permainan-permainan itu dijadiakan candu dalam kehidupan ini, hendaklah kita melarang pra pemuda mencari kesenangan lewat cara-cara yang menyesatkan. Sehingga mereka dapat menghindar dari kebudayaan Barat yang materalis, dan merasa bangga menjadikan islam sebagai idiologi karena islam menghantarkan individu dan kelompok kepada kehidupan mulia.

Rusullullah SAW telah mempereingatakan umatnya dan khususnya para pemuda, jangan sampai terperangkap dalam dekadensi moral, dimana para wanita berpenampilan merangsang, bugil dan menjual harga dirinya kepada laki-laki. Demikian pengaruh negative yang terkandung dalam permainan, lagu-lagu konyol, majalah-majalah dan film-film porno dan lain sebagainya dari berbagai macam sarana informasi modern. Karena semuanya itu sangat berdampak terhadap jiwa dan moral pemuda kita. Dimana pemuda kita lebih sensitive dari pada pemuda di barat, hal itu dapat disebutkan oleh tabi’at, lingkungan dan kebudayaan. Kita mengharapkan dunia islam hidup dan berkembang serta memperhatikan para pemudanya agar bekerja dan bertekad bulat memerangi kebodohan serta membasmi semua tindakan amoral dan maju terus dalam menegakan kebenaran kebaikan daneindahan.

Dalam mencari kesenangan dan ketenangan yang tidak dilarang Allah SWT, kita membentuk kelompok diskusi, klub-klub kesenian dan kebudayaan. Dengan demikian dapat menumbuhkan minat dan bakat seni para pemuda seprti menggambar, yang mana hal itu tidak membutuhkan keahlian khusus untuk membina instink dan mengembangkan bakatnya.

Apakah yang menghalangi dokter, arsitek atau seorang dokter untuk menjadi penulis atau penyair? Yang penting, setiap orang harus mengalokasikan waktunya sebaik mungkin dan meletakan segala sesuatunya pada tempatnya.

Sumber : Pemuda Aktivitas & Problematikanya